“Mengapa agama bisa banyak? Padahal Tuhan hanya 1?”

Awalnya Nabi Adam, lalu Nabi Idris, sampai kepada Nabi Nuh yang menyerukan kepada manusia akan kebenaran Tuhan, setelah zaman berlalu ada golongan manusia yang berpemahaman paganisme (polytheis) yang menyembah banyak dewa-dewa, yang melihat matahari bersinar lalu menganggapnya sebagai tuhan. Hingga Nabi Ibrahim meluruskan tauhid dan menyebarkan ajaran beliau sampai ke India. Ibrahim atau Abraham atau Abram atau Brahma yang dikenal sebagai “si teman api” oleh kaum-kaum zoroaster, dipercayai para peneliti sejarah agama (Theolog) mengajarkan kitab Veda atau disebut sebagai shuhuf Ibrahim menurut kepercayaan Islam. Pada Veda inilah terdapat akar terbentuknya agama Hindu dan kepercayaan yang terus menerus berkembang di sungai Indus.

Sampai pada masa Nabi Musa ditugaskan untuk mengajarkan kitab Hukum (Taurat). Ketika Musa ditanyakan konsep ke-Tuhanan, beliau menjawab “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa” (Ulangan 6:4). Tugas Musa pun diteruskan oleh Nabi Daud (Zabur) {Yahudi} hingga Nabi Isa (Injil) {Nasrani} masih dengan konsep yang sama (Markus 12:29) seperti yang diucapkan oleh Nabi Musa: “Syema yizra’el adonai elohinyu adonai ekhad..” Yang artinya “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa..”. Dari konsepsi ini kita mengenal Kristen Unitarian (percaya pada Allah yang Esa dan Yesus adalah utusan Allah). Namun ada pula konsep berbeda yang dibawa oleh Kristen Trinitarian (Percaya bahwa Yesus adalah bagian dari Allah, begitu juga Roh Kudus, merupakan tiga kesatuan ketuhanan).

Tradisi dan berbagai macam penalaran manusia yang mencampur kedalam agama dapat mengubah konsepsi agama menjadi berbeda. Hindu yang sekarang menganggap Brahma (Nabi Ibrahim) sebagai tuhan/dewa sedangkan menurut Islam beliau hanyalah utusan Allah (Nabi), begitupun kristen Trinitarian yang menganggap Yesus sebagai bagian dari tuhan dan sedangkan menurut Islam, Yesus adalah Nabi yang memiliki pangkat kenabian yang tinggi (Ulul Azmi) namun tetaplah seorang Nabi.

Musa diutus pada masa penurunan Alkitab, Daud diutus dimasa pembentukan Alkitab, Nabi Isa diutus pada masa pembuktian Alkitab dan Nabi Muhammad diutus dimasa penyempurnaan Alkitab.
Konsep dasar agama ini sudah jelas (seperti yang dinukilkan dari perkataan Nabi Musa dan Nabi Isa dalam perjanjian lama juga perjanjian baru) bahwa Tuhan hanya satu yaitu Allah: “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa” dan nama “Allah” itu sendiri telah tercantum didalam perjanjian lama (Taurat – Zabur), perjanjian baru (Injil), dan juga perjanjian terakhir (Al-Quran) oleh utusan Allah yang terakhir Nabi Muhammad dengan konsep yang sama dan lebih detail yaitu dalam surrah Al-Ikhlas:
-Katakanlah Allah itu Esa
-Allah tempat bergantung segala makhluk
-Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan
-Dan tidak ada satupun yang mampu menyetarai-Nya
(Quran Surrah Al-Ikhlas 1-4).

Singkron dengan penegasan Allah yang tanpa keraguan dalam Firman-Nya pada Surrah Al-Anbiya ayat 25:

“Aku tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad), melainkan Aku wahyukan bahwa tiada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku oleh kamu semua.”

 

Al-Quran adalah Bacaan sekaligus perjanjian terakhir yang didalamnya telah mencakup Hukum (Taurat), Peneguh hati (Zabur), juga Kabar gembira (Injil) bagi orang-orang yang beriman dan menginginkan keselamatan.
“Katakanlah Jibril sang Ruhul Qudus menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati (Zabur), menjadi petunjuk (Taurat), serta kabar gembira (Injil) bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”
(Qs. an-Nahl 16:102)

Jadi intinya adalah aturan Tuhan itu hanya diturunkan satu yaitu Islam (Keselamatan/Damai/Kesejahteraan),
“…Ikutilah agama orangtuamu Ibrahim yang lurus, Allah telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu…”
(Qs. Al-Hajj 78)

“Agama disisi Allah hanyalah Islam”
(Qs. Ali Imran 19)

Muhammad Rasulullah hanya sebagai penyempurna bukan pembuat agama Islam. Namun manusia lah yang menjadikannya terpisah-pisah dan berkelompok-berkelompok karena kurangnya materi pengetahuan.
“Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama yang satu, agama kalian semua, dan Aku adalah Tuhan mu maka sembahlah Aku. Mereka lah yang memisah-misah golongan mereka, dan kepada Allah lah mereka semua akan dikembalikan.”
(Qs. Al-Anbiya 92-93)
Sedangkan kebanyakan manusia hanya mengikuti doktrin para petinggi/pemimpin/imam di agamanya, tanpa merujuk kembali kedalam kitab suci. Itulah asal mula dari kesesatan. Padahal sudah jelas Yesus sendiri menyatakan “Tuhan Allah kita” yang berarti “Tuhan Allahku dan Tuhan Allahmu”. Namun pemahaman bisa menjadi simpangsiur dan berpecah-pecah jika masing-masing orang berkiblat kepada manusia lain, dan Al-Quran sendiri telah menyinggungnya:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah..”
(Qs. at-Taubah 9:31)

 

Lalu bagaimana dengan nasib orang diluar agama Islam?
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (akhirat) dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari (Aku) Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Qs. Al-Baqarah 2:62)

 

Lalu bagaimana pula dengan kaum Shabiin? Kaum yang diluar Muslim, Yahudi, atau Nasrani?
Pernahkah anda membaca pengalaman pengembaraan almarhum Ahmad Deedat ke Afrika Selatan ditengah masyarakat Zulu, disana ia menemukan kaum yang menyebut Tuhan mereka dengan nama uMVELINQANGI, lalu di India menurut beliau ada juga yang menyembah Tuhan bernama PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU.

 

Dan semua Tuhan-tuhan tersebut berdasarkan penyelidikan Ahmad Deedat tidak mencerminkan sistem polytheisme, artinya itu adalah konsep Tauhid atau monotheismenya masing-masing kaum (Lihat : Ahmed Deedat, Allah dalam Yahudi, Masehi, Islam, terjemahan H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28), dan ini mengindikasikan terpenuhinya kriteria QS. Al-Baqarah ayat 62.

 

Begitulah Al-Qur’an, tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan yang lain, atau konflik antar ayat dengan kenyataan.
Pertanyaan susulan : Kalau begitu untuk apa Muhammad diutus? orang cukup monotheisme saja selesai … masuk surga.
Saya jawab, bahwa sebelum pengutusan Nabi Muhammad, semua Nabi dan Rasul diutus bersifat kedaerahan, artinya mereka para nabi sebelum Nabi Muhammad diutus untuk masing-masing lokasi dimana mereka berdomisili, Mukjizat mereka hanya mampu disaksikan oleh kaum-kaum tertentu dan di zaman tertentu, tidak ada bukti untuk masa sekarang. Berbeda dengan Rasulullah yang mukjizatnya masih berjalan hingga akhir zaman bahkan hingga alam semesta ini musnah nantinya. Silahkan baca artikel saya yang terkait

http://lelakipenggenggamhujan.wordpress.com/2012/11/17/al-quran-itu-mukjizat-ataukah-karangan-muhammad/

Back to topic, intinya belum ada Rasul yang mencakup semua wilayah. Jikalau Nabi Isa disebut-sebut sebagai orangnya maka ini hanyalah karang-karangan saja, sebab sepanjang hidupnya Isa al-Masih tidak pernah berdakwah diluar bangsa Israel bahkan termasuk gerakan dakwah para murid-muridnya.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” – Matius 10:5-6

Lebih jauh lagi dari masalah kedaerahan tadi, peng-utusan Nabi Muhammad juga sebagai pelurus jalan dan pembaik akhlak. Fakta juga berbicara bahwa tidak ada ajaran Nabi dan Rasul sebelumnya yang masih murni tak bernoda, semuanya sudah dimanipulasi, semua sudah didistorsi tangan-tangan jahil manusia sehingga tercampurlah antara ajaran langit dengan ajaran bumi, antara benar dan salah, mitos berbaur dengan fakta. Tidak ada satu kitab suci pun yang masih murni kecuali Al-Quran. Silahkan buktikan dari Purana, Uphanisad, Bagavhad gita, yang tergolong dalam weda, atau Taurat, Zabur, Injil yang digolongkan dalam perjanjian baru dan perjanjian lama. Jika anda benar-benar menyelidiki sejarah, dan anda bisa membuktikan salah satu dari kitab-kitab yang saya sebutkan diatas yang masih murni, saya siap memberikan rewards. Tapi jika anda hanya sekedar sok tau padahal tidak pernah belajar benar-benar tentang sejarah keagamaan, maka tidak perlu saya tanggapi.

 


“Pandangan lama saya bahwa Injil adalah firman Tuhan tanpa ada kesalahan disitu, telah lama dikritik. Kita tidak punya rangkap asli Injil berbahasa Ibrani (Bahasa Asli Injil/Yahudi Kuno), yang kita punya pada umumnya DIBUAT BEBERAPA ABAD KEMUDIAN oleh para penyalin yang sebagiannya kurang bagus. Rangkap yang kita pegang sekarang, mengandung perubahan-perubahan. Itu yang saya tulis dalam buku “Misquoting Jesus”. Kita memiliki ribuan rangkap dan masing-masing mengandung ratusan ribu perbedaan didalamnya. Saya memiliki kesimpulan bahwa tidaklah masuk akal kalau Tuhan menjadi sumber kitab itu. Karena kita tidak punya kitab aslinya.”

–Prof. Dr. Bart Ehrman (Sarjana Perjanjian Baru)

 

Hanya Al-Quran yang masih murni, karena bacaan Al-Quran selalu disandingkan pada saat sholat 5 waktu. Jangankan mencari seorang ahli Al-Quran, seorang ustad kampung pun banyak yang telah menghafalnya. Sedangkan kitab lain? Tidak ada yang mampu menghafalnya. Padahal secara logika sederhana, Al-Quran selalu menggunakan bahasa Arab Quraish dalam dialek nya (dan diterjemahkan tanpa menghilangkan bahasa asli) yang bukan bahasa ibu dari orang Indonesia, tapi tidak sedikit orang Indonesia yang mampu menghafalnya. Sedangkan kitab lain sering hanya dianggap hukum sampingan, dan yang terutama adalah pendapat-pendapat para petinggi agama mereka saja. Juga tidak ada yang mampu menghafalnya, padahal banyak kitab yang tercantum bahasa Indonesia (tanpa bahasa aslinya). Secara Iman, Allah sudah membuktikannya bahwa perkataan-Nya yang sebenar-benarnya akan lebih mudah ditampung didalam hati makhluk ciptaan-Nya.

 

Jika sudah demikian adanya, bagaimana bisa konsep monotheisme Tuhan menyebar keseluruh dunia sebagai sifat Rahman dan Rahimnya Allah? Fakta, berapa banyak orang jawa yang ber-KTP Islam tetapi mereka tetap percaya, tetap takut, tetap hormat, tetap memberikan sajen pada setan penghuni laut selatan? Ini artinya tanpa pengutusan Nabi Muhammad, secara kausalita, secara hukum alam sebab akibat, tidak ada jaminan konsep-konsep Monotheisme Tuhan menyebar dan merangkul keberbagai benua. Inilah bukti harus ada wadah yang mempersatukan. Anda paham maksud saya? wadah itulah Islam. Itulah yang disebut Rahmatan lil ‘alamin, Rahmat seluruh alam semesta. Bukan konteks islam sebagai satu buah agama dengan sebagian pengikutnya, tapi Islam adalah peraturan dan tata cara hidup yang benar yang harus diikuti oleh seluruh alam semesta. Semoga anda paham maksud saya, dan pemikiran sempit anda tentang Islam yang kecil akan tergantikan menjadi Islam yang besar, yang memang benar-benar aturan yang diturunkan oleh Allah sang Tuhan Semesta Alam, bukan hanya untuk orang arab saja.

 

Maka inti tauhid awalnya adalah beriman kepada Allah dan hari akhir. Jadi esensi yang ditekankan adalah esensi monotheisme atau esensi Tauhid, kesimpulan ini berhubungan erat dengan kenyataan yang terjadi dalam sejarah ketika Nabi berhadapan dengan para pendeta Najran, dialog antara keduanya ini diabadikan Allah dalam al-Qur’an :

“Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perbedaan antara kami dan kamu, yaitu janganlah kita menyembah melainkan Allah dan janganlah kita menyekutukan sesuatupun dengan Dia, dan jangan pula sebagian dari kita dijadikan sebagai Tuhan-tuhan selain dari Allah. ; Jika mereka berkhianat maka hendaklah kamu katakan : ‘Lihatlah, kami sesungguhnya adalah orang-orang yang berserah diri ‘ (QS. ali Imron 3:64)

 

Kita baca dari dialog diatas, Nabi Muhammad sama sekali tidak mengejar pengakuan para pendeta ahli kitab itu terhadap klaim kenabiannya, setelah ajakan kepada seruannya (untuk mengikuti agama yang telah disempurnakan) tidak diterima, Nabi akhirnya mengajak untuk percaya pada satu Tuhan (Ibarat kata, kalo orang ini ga bisa jadi sarjana, setidaknya dia tetap sekolah minimal sampe SMP), artinya kira-kira : tidak apa anda tidak mengakui saya sebagai Nabi Tuhan asalkan anda tetap memegang prinsip satu Tuhan. Yaitu, tidak ada Tuhan selain Allah. Tuhan ya Allah, Allah ya Tuhan. Tapi tidak akan masuk surga bagi mereka yang menyekutukan Allah:

 

Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Al-Masih putra Maryam itu ialah Allah.” Padahal Al Masih sendiri berkata: “Hai bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun..”

 


Maka dengan tegas Islam menolak pemahaman polytheisme, atau konsep tuhan itu tiga atau tuhan tiga dalam satu kesatuan alias 1+1+1=1. Islam menolak konsep seperti itu..  
Tritunggal, Trinitas, Trimurti, atau Tridewa seperti:

Brahma, Wisnu, Siwa.
Mithra, Ahirman, Ohrzmad.
Osiris, Isis, Horus.
Bapa, Putra, Roh Kudus.

 

Jika Tuhan itu Satu namun terdiri dari 3 kesatuan (Ibarat segitiga yang seginya ada tiga namun tetap satu, ataupun jari yang ruasnya ada tiga namun jarinya tetap satu), maka jika 3 kesatuan ini terpisah, masing-masing mereka (ketika dipisah) tidak dapat disebut sebagai Tuhan (Ibarat segitiga, jika seginya dihilangkan satu, maka tidak dapat lagi disebut sebagai segitiga). Namun jika ketika masing-masing mereka dipisah dan masih dapat disebut sebagai tuhan, maka ketika mereka bersatu tidaklah menjadi satu Tuhan lagi, melainkan tiga tuhan. Paham maksud saya? Saya hanya mempermudah anda berpikir, saya kembalikan kepada anda. Mari kita berpikir rasional.Al-Quran telah menyinggungnya:

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan jangan kamu mengatakan; “ Tuhan itu tiga”, berhentilah dari ucapanmu itu. Itu lebih baik bagimu.” (QS. An-Nisa 171)

 

Lalu bagaimana dengan orang2 dipedalaman yang tidak mengenal agama, atau jauh dari informasi?

“Dan tidaklah Allah meng-azab suatu kaum hingga diutus kepada mereka seorang Rasul.”
(Qs. Al-Isra 15)

 

Lalu bolehkah orang yang sudah Islam mengambil syariat lama saja? Seperti syariat nasrani yang dibawa oleh Nabi Isa misalnya?

Analoginya seperti ini, ketika seseorang sekolah dan mencapai jenjang pendidikan SMA, maka lebih baik lagi jika dia meneruskan menjadi Sarjana. Tapi bila dia sudah jadi Sarjana, apakah pantas untuknya kembali ke SMA? Islam telah disempurnakan Muhammad Rasulullah, pantaskah bila orang yang sudah memeluk Islam (yang sudah disempurnakan) untuk mundur lagi dan memilih Nasrani (Islam yang belum disempurnakan) sebagai keyakinannya?

“Kamu adalah umat yang terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Qs. Ali Imran 3:110)

 

“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang diberi AlKitab Taurat dan Injil semua ayat keterangan, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu –kalau begitu– termasuk golongan orang-orang zalim.”
(Qs. Al-Baqarah 2:145)

 

Tidak mungkin Yahudi berkiblat ke Ka’bah (karena mungkin mereka tidak meyakini bahwa Muhammad shallallahu’alaihiwasallam adalah nabi dan utusan Allah) sedangkan Islam (yang sudah disempurnakan) tidak mungkin pula sholat menghadap dinding Al-Burak (Al-Mabka) atau yang kita kenal sebagai Tembok Ratapan, karena kita mengetahui syariat ini sudah disempurnakan. Mereka akan berkiblat kepada ka’bah ketika mereka memeluk agama Islam yang telah disempurnakan ini, tapi bila belum memeluknya maka tidak mungkin mereka berkiblat kepada ka’bah yang dibangun oleh bapak segala agama (Nabi Ibrahim). Barangsiapa yang sudah memiliki pengetahuan tentang syariat yang telah disempurnakan ini tapi mundur kepada syariat lama (yang belum disempurnakan) maka dia tergolong orang yang zalim (jahat).

 

Silahkan simpulkan sendiri. Apabila yang saya nyatakan penuh kesalahan (menurut anda), maka hiraukan saja dan tidak perlu anda ikuti. Namun jika yang saya sampaikan adalah kebenaran, kelak pemahaman kita akan kita pertanggungjawabkan di hari kemudian. Wallahua’lam.

 

“Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”
(Qs. Al-Baqarah 2:256)

 

 

 

Reference:
-Al-Quran
-Syaikh Ahmad Hoosen Deedat
-Karen Armstrong (Sejarah Tuhan)
-Prof. Dr. Bart Ehrman (Sarjana Perjanjian Baru)
-Armansyah Sutan Sampono (One of my teacher)